Suatu sore di tahun 2008 sehabis berenang-renang di Kolam Pelabuhan Laut Wasior, aku menyempatkan diri mengamati Sungai Wosimi. Sungai yang membelah kota Wasior ini menurut masyarakat setempat berfungsi mengalirkan air hujan dari Kawasan Wasior dan sekitranya ke laut dengan ujung muara dekat Pelabuhan Wasior. Penampang sungai itu hanya sekitar 8 meter dengan kedalaman 2 meter, sehingga akan sangat kewalahan untuk menampung seluruh air hujan dari seluruh kota.Perkiraanku itu dibenarkan oleh Pak Marey Markus, yang menjabat sebagai Kepala Pelabuhan Wasior. Bahkan ia mengatakan jika hujan besar, serung kali kantor pelabuhannya terendam air.
Berdasarkan data RTRW Sungai Wosimi dikatakan panjangnya 55 km yang oleh penduduk setempat dijadikan sebagai sarana transportasi. Pada musim kemarau, air yang mengalir hanya selebar 2 meter dengan kedalaman rata-rata sekitar 30 cm. Sangat mustahil digunakan sebagai sarana transportasi, karena muaranya saja sangat kecil sehingga badan sunga di atasnya tidak mungkin lebih besar dari itu.
Kota Wasior adalah pusat keramaian Kabupaten Teluk Wondama, kabupaten baru hasil pemekaran wilayah 2002. Wasior juga merupakan pintu gerbang Kabupaten Teluk Wondama ke wilayah lain, sehingga tumbuh menjadi pusat perekonomian Kabupaten Wondama. Pada awalnya Kota Wasior merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama, namun untuk percepatan pertumbuhan wilayah, pusat pemerintahan itu di pindah ke Rasie sekitar 25 km lebih ke atas kota tersebut.
Kota yang pada tahun 2008 berpenduduk sekitar 8000 jiwa ini memiliki infrastruktur wilayah yang paling lengkap di seluruh Kabupaten Teluk Wondama. Selain fasilitas perekonomian standar seperti pasar dan pertokoan, Wasior juga memiliki pelabuhan yang dapat disinggahi kapal besar, bandar udara perintis dan sarana perbankan. Karena itu, sebagian pegawai Pemda masih memilih tinggal di Wasior daripada di Rasie yang merupakan pusat pemerintahan resmi Kabupaten Teluk Wondama. Meski kantor-kantor pemerintahan sudah dibangun di Rasie sekitar tahun 2006, namun sampai tahun 2008 sebagian besar kantor Pemerintah Kabupaten Wasior masih berkantor di Wasior.
Seperti wilayah pesisir terpencil pada umumnya, mata pencaharian masyarakat asalnya adalah melaut dan berkebun. Dengan pernah dijadikannya pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama di awal pendiriannya, sebagian masyarakat menjadi pegawai pemerintah daerah dan sebagian lagi penyedia jasa,pedagang, tukang bangunan dan tukang ojek.
Dua bulan lalu, membaca dan mendengar di berbagai media nasional banjir bandang telah meluluh-lantakan Kota Wasior, dengan korban tewas mencapai ratusan orang. Aku sempat membayangkan adanya hujan besar yang air lariannya tak tertapung Sungai Wosimi sehingga akan merendam bangunan-bangunan di sekitar pelabuhan lagi, tapi tidak sampai membayangkan akan terjadi bencana yang hampir sama dengan Tsunami Aceh.
Pasca bencana tersebut, aku mencoba membuka dokumen RTRW yang menjadi salah oleh-oleh kami dari sana. Aku sangat kaget karena telaga di atas bukit yang konon kabarnya merupakan “pengirim” banjir bandang sama sekali tak terpetakan. Potensi bencanapun sama sekali tak memprediksi akan adanya banjir karena kontur wilayah cukup miring untuk ukuran sebuah kawasan perkampungan pesisir. Dokumen rencana induk kabupaten tersebut hanya menyebutkan kemungkinan adanya potensi gempa dari jalur lempeng teknonik Australia.
Kini, lengkaplah sudah penderitaan warga Wasior. Pada saat normalpun mereka serba kekurangan dengan akses transportsi ke wilayah lain maksimal 2 kali seminggu, apalagi setelah ditimpa bencana ini. Seiring berita-berita kerusakan infrastruktur kota pasca bencana itu, kucoba mengontak Pak Marey dan Mas Samori, orang yang kukenal bertugas di Pelabuhan Wasior. Pelabuhan itu mungkin menjadi bagian terparah dari wilayah bencana itu, karena lokasinya berada paling bawah dan berdekatan dengan muara sungai.
Yaah … mudah-mudahan saja tidak dapatnya kontak dengan mereka cuma karena Tower Simpatinya yang rusak, bukan karena mereka termasuk ke dalam daftar korban tewas atau hilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar