Sabtu, 08 Maret 2014

Menyusur Sungai Mahakam

Pagi yang cerah membangunkan Kota Samarinda, tempat aku memulai perjalanan menyelusuri Sungai Mahakam untuk pertama kalinya tahun 2005. Dengan menggunakan kapal kayu kapasitas 200 orang, yang dikenal dengan nama “bis air” kami memulai perjalanan tepat jam 7 pagi waktu setempat. Untuk melayani penumpang ke arah hulu Mahakam, tersedia dua bis air dengan kapasitas yang sama.
Kota pertama yang dilalui adalah Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara. Konon katannya kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten dengan penerimaan daerah tertinggi di Indonesia. Cirinya adalah “Ancol Mini”nya yaitu Pulau Kemala.
Kejenuhan mulai merasukiku ketika menjelang siang sampai sore, karena pemandangan sepanjang sungai hanya kampung-kampung kecil, penggergajian kayu dan pelabuhan-pelabuhan batu-bara dan beberapa bidang hutan yang agak gundul. Sementara pesut yang kabarnya habitatnya di sungai ini tidak pernah menampakkan batang hidungnya.
Kota Melak, ibukota kabupaten Kutai Barat kami lalui sekitar jam 3 pagi. Tidak ada yang terlihat selain tukang ketupat sayur dan beberapa tukang ojek. Jam 7 pagi hari berikutnya kami tiba di Pelabuhan Tering, salah satu wilayah dampak dari pertambangan PT. Kelian Equator Minning. Di kota ini juga aku tidak menemkan kesan apa-apa, hampir serupa dengan Melak.
Semakin siang, kejenuhan hari kedua terasa semakin menyiksa ketika pemandangan kiri-kanan hanya hutan-hutan yang agak gundul, yang menghiasi pandangan mataku sejak hari kemarin. Untuk mengusir kejenuhan tersebut, aku sesekali memejamkan mata supaya bisa tertidur. Sementara ujung akhir perjalanan yaitu Kota Ujoh Bilang sebagai ibukota Kecamatan Long Bagun baru akan dicapai jam 5 besok paginya lagi.
Long Bagun adalah salah satu nama Kecamatan yang ada di hulu Sungai Mahakam, berada dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Kutai Barat. Kota besar terdekat adalah Samarinda, sekitar 600 km atau 2 hari perjalanan kapal air menyusuri Sungai Mahakam, salah satu sungai terpanjang di Pulau Kalimantan.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, jalan darat dari Samarinda hanya sampai Kota Tering. Selebihnya tidak ada pilihan selain jalur sungai. Bandara perintis “Datah Daway” yang berada di Kecamatan Long Apari belum dapat melayani angkutan udara secara signifikan.
Makin hulu ternyata pemandangan semakin menarik, dinding-dinding batu raksasa terdapat di sebelah hilir Ibukota Kecamatan Long Bagun. Tinggi dinding tersebut diperkirakan antara 20 sampai 30 meter yang menurut masyarakat setempat diatasnya merupakan tempat-tempat angker. Di ketinggian tersebut, beberapa bagian juga digunakan untuk budidaya burung walet.

Ke arah hulunya ada Kecamatan Long Apari, yang berbatasan dengan Malaysia. Sungai makin mengecil bahkan terdapat dua riam yang memiliki perilaku berbeda pada saat yang bersamaan. Namanya Riam Panjang dan Riam Udang, konon jika yang satu lagi tenang maka yang satunya lagi sedang ganas.
Juni 2010 lalu, aku berkesempatan melakukan perjalanan yang sama. Situasi perjalanan hampir sama dengan lima tahun lalu. Perbedaan yang menonjol hanya pada wilayah Kutai Kartanegara, dimana sudah terdapat stadion yang sangat megah yang terlihat sangat jelas dari dalam kapal. Lainnya adalah jika dulu rakit-rakit kayu gelondongan sangat banyak, pada perjalanan kemarin hanya ada dua rakit, itupun tidak sepanjang dulu.

Yaah….. mungkin karena hutannya sudah habis, akibatnya wilayah dari Tenggarong sampai Samarinda menjadi daerah rawan banjir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar