Pagi yang cerah membangunkan Kota Samarinda, tempat aku memulai
perjalanan menyelusuri Sungai Mahakam untuk pertama kalinya tahun 2005. Dengan
menggunakan kapal kayu kapasitas 200 orang, yang dikenal dengan nama “bis air”
kami memulai perjalanan tepat jam 7 pagi waktu setempat. Untuk melayani penumpang ke arah hulu Mahakam, tersedia dua bis
air dengan kapasitas yang sama.
Kota pertama yang dilalui adalah Tenggarong, ibukota Kabupaten
Kutai Kartanegara. Konon katannya kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten
dengan penerimaan
daerah tertinggi di Indonesia. Cirinya
adalah “Ancol Mini”nya yaitu Pulau Kemala.
Kejenuhan mulai merasukiku ketika menjelang siang sampai sore,
karena pemandangan sepanjang sungai hanya kampung-kampung kecil, penggergajian
kayu dan pelabuhan-pelabuhan batu-bara dan beberapa bidang hutan yang agak
gundul. Sementara pesut yang kabarnya habitatnya di sungai ini tidak pernah
menampakkan batang hidungnya.
Kota Melak, ibukota kabupaten Kutai Barat kami lalui sekitar jam 3
pagi. Tidak ada yang terlihat selain tukang ketupat sayur dan beberapa tukang
ojek. Jam 7 pagi hari berikutnya kami tiba di Pelabuhan Tering, salah satu
wilayah dampak dari pertambangan PT. Kelian Equator Minning. Di kota ini juga
aku tidak menemkan kesan apa-apa, hampir serupa dengan Melak.
Semakin siang, kejenuhan hari kedua terasa semakin menyiksa ketika
pemandangan kiri-kanan hanya hutan-hutan yang agak gundul, yang menghiasi
pandangan mataku sejak hari kemarin. Untuk mengusir kejenuhan tersebut, aku
sesekali memejamkan mata supaya bisa tertidur. Sementara ujung akhir perjalanan
yaitu Kota Ujoh Bilang sebagai ibukota Kecamatan Long Bagun baru akan dicapai
jam 5 besok paginya lagi.
Long Bagun adalah salah satu nama Kecamatan yang ada di hulu
Sungai Mahakam, berada dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Kutai Barat.
Kota besar terdekat adalah Samarinda, sekitar 600 km atau 2 hari perjalanan
kapal air menyusuri Sungai Mahakam, salah satu sungai terpanjang di Pulau
Kalimantan.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, jalan
darat dari Samarinda hanya sampai Kota Tering. Selebihnya tidak ada pilihan
selain jalur sungai. Bandara perintis “Datah Daway” yang berada di Kecamatan
Long Apari belum dapat melayani angkutan udara secara signifikan.
Makin hulu ternyata pemandangan semakin menarik, dinding-dinding
batu raksasa terdapat di sebelah hilir Ibukota Kecamatan Long Bagun. Tinggi
dinding tersebut diperkirakan antara 20 sampai 30 meter yang menurut masyarakat
setempat diatasnya merupakan tempat-tempat angker. Di ketinggian tersebut,
beberapa bagian juga digunakan untuk budidaya burung walet.
Ke arah hulunya ada Kecamatan Long Apari, yang berbatasan dengan
Malaysia. Sungai makin mengecil bahkan terdapat dua riam yang memiliki perilaku
berbeda pada saat yang bersamaan. Namanya Riam Panjang dan Riam Udang, konon
jika yang satu lagi tenang maka yang satunya lagi sedang ganas.
Juni 2010 lalu, aku berkesempatan melakukan perjalanan yang sama.
Situasi perjalanan hampir
sama dengan lima tahun lalu. Perbedaan yang menonjol hanya pada wilayah Kutai
Kartanegara, dimana sudah terdapat stadion yang sangat megah yang terlihat
sangat jelas dari dalam kapal. Lainnya adalah jika dulu rakit-rakit kayu
gelondongan sangat banyak, pada perjalanan kemarin hanya ada dua rakit, itupun
tidak sepanjang dulu.
Yaah….. mungkin karena hutannya sudah habis, akibatnya wilayah
dari Tenggarong sampai Samarinda menjadi daerah rawan banjir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar