Minggu, 09 Maret 2014

Cara Hemat Gonta-ganti Sepeda

Ketika anda merasa bosan dengan sepeda gunung, seringkali muncul keinginan untuk memiliki sepeda baru dengan model atau warna lain.  Bersepeda ibarat memakai baju, sepatu dan barang sandang lainnya,  memakai yang itu-itu terus lama-lama bosan juga.  Maka tidak jarang, penggemar sepeda bisa memiliki dua, tiga bahkan lima sepeda.

Untuk orang yang kemampuan finansialnya “berlebih” tentu hal tersebut tidak masalah. Tetapi untuk yang keuangannya sedang-sedang saja, jangan tergesa-gesa untuk membeli sepeda baru karena jika keinginan itu selalu diikuti, kocek anda akan bobol juga.

Cara yang paling murah agar dapat ganti-ganti sepeda adalah dengan memiliki dua atau lebih batangan (frame) yang berbeda jenis, ukuran, warna ataupun kelas, dan duawheelset dengan ukuran ban yang berbeda pula.

Misalnya saat ini anda memiliki sepeda type P**** Xtrada 4 (maaf menyebut merk) dengan spesifikasi speed 3×9 dan remnya cakram. Jika anda ingin berganti ke P**** Cozmic yang kastanya sedikit lebih tinggi, tak usah beli sepeda utuh yang harganya lebih dari 7 jete, anda cukup beli frame (batangan) nya saja yang tidak sampai 2 jete untuk dipasangkan pada sepeda yang  sudah ada. Atau bisa juga mengganti frame dari type cross country ke type fulsus dan sebagainya. Jika punya 3 frame dan 2 wheelset, anda sudah punya 6 sepeda yang dapat ditampilkan berbeda.

Untuk bisa melakukannya sendiri, anda cukup memiliki pengetahuan  tentang cara mencabut dan memasang fork, memasang dan menyetel groupset, juga memasang ban. Melihat dengan seksama satu atau dua kali cara bengkel memasang alat-alat tersebut, anda pasti sudah dapat melakukannya.

Sedangkan peralatannya cukup dengan memiliki satu set kunci L, beberapa kunci pas, kunci pembuka rante dan kunci pembuka crank yang harga semuanya tidak sampai dua ratus ribuan. Sedangkan untuk bottom bracket bisa dipasang di setiap frame sehingga tidak repot jika akan mereinkarnasi si kereta angin tersebut. Jika tidak bisa memasangkannya sendiri, di bengkelpun paling menghabiskan 20 atau 25 ribu saja.

Yah, sedikit bergaya sambil berolah raga dengan gonta-ganti sepeda boleh saja selama hobby itu tidak meracuni keluarga anda. Saya menyebut “meracuni” karena ada kenalan saya yang melonggarkan anggaran untuk memenuhi hasratnya mengganti sepeda tetapi lupa membiayai les anaknya sehingga ia ketinggalan pelajarannya di sekolah.

Sabtu, 08 Maret 2014

Menyusur Sungai Mahakam

Pagi yang cerah membangunkan Kota Samarinda, tempat aku memulai perjalanan menyelusuri Sungai Mahakam untuk pertama kalinya tahun 2005. Dengan menggunakan kapal kayu kapasitas 200 orang, yang dikenal dengan nama “bis air” kami memulai perjalanan tepat jam 7 pagi waktu setempat. Untuk melayani penumpang ke arah hulu Mahakam, tersedia dua bis air dengan kapasitas yang sama.
Kota pertama yang dilalui adalah Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara. Konon katannya kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten dengan penerimaan daerah tertinggi di Indonesia. Cirinya adalah “Ancol Mini”nya yaitu Pulau Kemala.
Kejenuhan mulai merasukiku ketika menjelang siang sampai sore, karena pemandangan sepanjang sungai hanya kampung-kampung kecil, penggergajian kayu dan pelabuhan-pelabuhan batu-bara dan beberapa bidang hutan yang agak gundul. Sementara pesut yang kabarnya habitatnya di sungai ini tidak pernah menampakkan batang hidungnya.
Kota Melak, ibukota kabupaten Kutai Barat kami lalui sekitar jam 3 pagi. Tidak ada yang terlihat selain tukang ketupat sayur dan beberapa tukang ojek. Jam 7 pagi hari berikutnya kami tiba di Pelabuhan Tering, salah satu wilayah dampak dari pertambangan PT. Kelian Equator Minning. Di kota ini juga aku tidak menemkan kesan apa-apa, hampir serupa dengan Melak.
Semakin siang, kejenuhan hari kedua terasa semakin menyiksa ketika pemandangan kiri-kanan hanya hutan-hutan yang agak gundul, yang menghiasi pandangan mataku sejak hari kemarin. Untuk mengusir kejenuhan tersebut, aku sesekali memejamkan mata supaya bisa tertidur. Sementara ujung akhir perjalanan yaitu Kota Ujoh Bilang sebagai ibukota Kecamatan Long Bagun baru akan dicapai jam 5 besok paginya lagi.
Long Bagun adalah salah satu nama Kecamatan yang ada di hulu Sungai Mahakam, berada dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Kutai Barat. Kota besar terdekat adalah Samarinda, sekitar 600 km atau 2 hari perjalanan kapal air menyusuri Sungai Mahakam, salah satu sungai terpanjang di Pulau Kalimantan.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, jalan darat dari Samarinda hanya sampai Kota Tering. Selebihnya tidak ada pilihan selain jalur sungai. Bandara perintis “Datah Daway” yang berada di Kecamatan Long Apari belum dapat melayani angkutan udara secara signifikan.
Makin hulu ternyata pemandangan semakin menarik, dinding-dinding batu raksasa terdapat di sebelah hilir Ibukota Kecamatan Long Bagun. Tinggi dinding tersebut diperkirakan antara 20 sampai 30 meter yang menurut masyarakat setempat diatasnya merupakan tempat-tempat angker. Di ketinggian tersebut, beberapa bagian juga digunakan untuk budidaya burung walet.

Ke arah hulunya ada Kecamatan Long Apari, yang berbatasan dengan Malaysia. Sungai makin mengecil bahkan terdapat dua riam yang memiliki perilaku berbeda pada saat yang bersamaan. Namanya Riam Panjang dan Riam Udang, konon jika yang satu lagi tenang maka yang satunya lagi sedang ganas.
Juni 2010 lalu, aku berkesempatan melakukan perjalanan yang sama. Situasi perjalanan hampir sama dengan lima tahun lalu. Perbedaan yang menonjol hanya pada wilayah Kutai Kartanegara, dimana sudah terdapat stadion yang sangat megah yang terlihat sangat jelas dari dalam kapal. Lainnya adalah jika dulu rakit-rakit kayu gelondongan sangat banyak, pada perjalanan kemarin hanya ada dua rakit, itupun tidak sepanjang dulu.

Yaah….. mungkin karena hutannya sudah habis, akibatnya wilayah dari Tenggarong sampai Samarinda menjadi daerah rawan banjir.

Jumat, 07 Maret 2014

Wasior Sebelum Bencana

Suatu sore di tahun 2008 sehabis berenang-renang di Kolam Pelabuhan Laut Wasior, aku menyempatkan diri mengamati  Sungai Wosimi. Sungai yang membelah kota Wasior ini menurut  masyarakat setempat berfungsi mengalirkan air hujan dari Kawasan Wasior dan sekitranya ke laut dengan ujung muara dekat Pelabuhan Wasior.   Penampang sungai  itu hanya sekitar 8 meter dengan kedalaman 2 meter,  sehingga akan sangat kewalahan untuk menampung seluruh air hujan dari seluruh kota.Perkiraanku itu dibenarkan oleh Pak Marey Markus, yang menjabat sebagai Kepala Pelabuhan Wasior. Bahkan ia mengatakan jika hujan besar, serung kali kantor pelabuhannya terendam air.
Berdasarkan data RTRW Sungai Wosimi dikatakan panjangnya 55 km yang oleh penduduk setempat dijadikan sebagai sarana transportasi. Pada musim kemarau, air yang mengalir hanya selebar 2 meter dengan kedalaman rata-rata sekitar 30 cm. Sangat mustahil digunakan sebagai sarana transportasi, karena muaranya saja sangat kecil sehingga badan sunga di atasnya tidak mungkin lebih besar dari itu.
Kota Wasior adalah pusat keramaian Kabupaten Teluk Wondama, kabupaten baru hasil pemekaran wilayah  2002. Wasior juga merupakan pintu gerbang Kabupaten Teluk Wondama ke wilayah lain, sehingga  tumbuh menjadi pusat perekonomian Kabupaten Wondama. Pada awalnya Kota Wasior merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama, namun untuk percepatan pertumbuhan wilayah, pusat pemerintahan itu di pindah ke Rasie sekitar 25 km lebih ke atas kota tersebut.
Kota yang pada tahun 2008 berpenduduk sekitar 8000 jiwa ini memiliki infrastruktur wilayah yang paling lengkap di seluruh Kabupaten Teluk Wondama. Selain fasilitas perekonomian standar seperti pasar dan pertokoan, Wasior juga memiliki pelabuhan yang dapat disinggahi kapal besar, bandar udara perintis dan sarana perbankan. Karena itu, sebagian pegawai Pemda masih memilih tinggal di Wasior daripada di Rasie yang merupakan pusat pemerintahan resmi Kabupaten Teluk Wondama. Meski kantor-kantor pemerintahan sudah dibangun di Rasie sekitar tahun 2006, namun sampai tahun 2008 sebagian besar kantor Pemerintah Kabupaten Wasior masih berkantor di Wasior.
Seperti wilayah pesisir terpencil pada umumnya, mata pencaharian masyarakat asalnya adalah melaut dan berkebun. Dengan pernah dijadikannya pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Wondama di awal pendiriannya, sebagian masyarakat menjadi pegawai pemerintah daerah dan sebagian lagi penyedia jasa,pedagang, tukang bangunan dan tukang ojek.
Dua bulan lalu, membaca dan mendengar di berbagai media nasional  banjir bandang telah meluluh-lantakan Kota Wasior, dengan korban tewas mencapai ratusan orang.  Aku sempat membayangkan adanya hujan besar yang  air lariannya tak tertapung Sungai Wosimi sehingga akan merendam bangunan-bangunan di sekitar pelabuhan lagi, tapi tidak sampai membayangkan akan terjadi bencana yang hampir sama dengan Tsunami Aceh.
Pasca bencana tersebut, aku mencoba membuka dokumen RTRW yang menjadi salah oleh-oleh kami dari sana. Aku sangat kaget karena telaga di atas bukit yang konon kabarnya merupakan “pengirim” banjir bandang sama sekali tak terpetakan. Potensi bencanapun sama sekali tak memprediksi akan adanya banjir karena kontur wilayah cukup miring untuk ukuran sebuah kawasan perkampungan pesisir. Dokumen rencana induk kabupaten tersebut hanya menyebutkan kemungkinan adanya potensi gempa dari jalur lempeng teknonik Australia.
Kini, lengkaplah sudah penderitaan warga Wasior. Pada saat normalpun mereka serba kekurangan dengan akses transportsi ke wilayah lain maksimal 2 kali seminggu, apalagi setelah ditimpa bencana ini. Seiring berita-berita kerusakan infrastruktur kota pasca bencana itu, kucoba mengontak Pak Marey dan Mas  Samori, orang yang kukenal bertugas di Pelabuhan Wasior. Pelabuhan itu mungkin menjadi bagian  terparah  dari wilayah bencana itu, karena lokasinya berada paling bawah dan berdekatan dengan muara sungai.
Yaah … mudah-mudahan saja tidak dapatnya kontak dengan mereka cuma karena  Tower Simpatinya yang rusak, bukan karena mereka termasuk ke dalam daftar korban tewas atau hilang.

Ongkos Ojek 300 Ribu….

Pernahkah anda naik ojek harus bayar Rp 300.000….?
Untuk ukuran Kota Bandung, mungkin bisa keliling kota Bandung 4 putaran, dari Bojong Soang, Dayeuh kolot, Cibiru, Dago, Ledeng, Cimahi, Cijerah, Caringin tembus ke Kopo, trus ke Tegalega dampai di Alun-alun…. itu bisa makan waktu seharian.
Kejadian itu saya alami tahun 2009 silam di Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, tepatnya di ujung timur Pulau Halmahera adalah hanya untuk perjalanan 25 km bolak-balik dengan waktu sekitar 3 jam.
Sepintas memang terasa sangat mahal, namun menjadi wajar-wajar saja setelah melaluinya. Turunan dan tanjakan yang sangat terjal tersebut memyebabkan harga segitu tidak mahal lagi. Hanya dengan ojek sekelas Honda MegaPro terbaru lah jalan-jalan itu bisa dilalui. Menurut tukang ojek dan penduduk disana, mereka juga bisa membawa kulkas, atau beberapa karung hasil bumi sekali angkut.
Hal pertama yang mengagetkan saya adalah topi saya yang terpelas, itu menunjukkan bahwa mereka mengendarai ojek dengan kecepatan tinggi, meskipun lebar jalan aspal paling cuma sejengkal.
Begitulah transportasi reguler yang ada di wilayah tersebut. Tak aneh kalau harga-harga kebutuhan pokok sangat tinggi, karena biaya transportasi merupakan komponen utama pembentuk harga barang.
Ya….. meskipun tarif ojek super mahal,  ternyata sangat masuk akal, karena selain sewa ojek, juga keterampilan mengemudi mereka juga layak dihargai

Kegiatan yang Wajib Amdal Itu yang Sebesar Apa..?

Beberapa waktu lalu, sebuah komunitas masyarakat berencana menggugat sebuah perusahan penambangan pasir yang kegiatannya oleh komunitas itu dianggap merusak lingkungan. Selain kekhawatiran tersebut, mereka juga menduga bahwa kegiatan tersebut tidak ada Amdalnya. Salah seorang dari saya mengajak untuk melakukan gugatan tersebut.
Karena tidak tahu persis besaran kegiatannya   saya menanyakan memangnya berapa banyak pasir yang akan ditambang mereka, atau berapa luas lahan yang akan dikupasnya? Mereka mengatakan tidak tahu persis, tetapi menurut mereka kegiatan tersebut harus ada Amdalnya, dan rencana gugatan akan dimulai dari keberadaan dokumen tersebut.
Saya mendapat ajakan seperti itu dua kali untuk kasus dan lokasi yang berbeda, tetapi urung untuk turut berpartisipasi. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena memang kegiatan tersebut tidak memerlukan Amdal.
Memang kegiatan apa saja dan sebesar apa yang wajib Amdal?
saya ingin sedikit berbagi barangkali ada kompasianer yang membutuhkan informasi tersebut sehingga misalnya akan melakukan sesuatu seperti di atas tidak asal tuntut, tetapi jelas dasar pijakannya.
Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan hidup menyebutkan bahwa rencana usaha dan atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan wajib dilengkapi dengan Dokumen Amdal. Namun demikian, ada ukuran tertentu yang menjadi batas minimal apakah kegiatan tersebut Wajib Amdal atau tidak. Untuk saat ini, acuan nasional yang digunakan adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 05 tahun 2012 tentang jenis usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Dokumen AMDAL.  
Pada lampiran 1 peraturan tersebut disebutkan bahwa ada 14 (empat belas) sector kegiatan dengan ukuran tertentu yang wajib dilengkapi dengan dokumen Amdal. Salah satu detil kegiatannya adalah kegiatan reklamasi pesisir dan pulau-pulau kecil, yang dalam peraturan tersebut termasuk dalam kelompok multisektor, dinyatakan Wajib Amdal jika luasnya 25 ha atau lebih, atau volume material urugnya 500.000 meter kubik atau lebih, atau panjangnya    meter tegak lurus garis pantai 50 meter atau lebih. Dikatakan atau maksudnya adalah   jika salah satu ukuran tersebut terpenuhi menjadi wajib Amdal. Jika tidak maka tidak ada kewajiban untuk dilengkapi dengan Amdal.
Jika kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan dampak lingkungan tetapi besarannya tidak memenuhi ketentuan wajib Amdal, maka dokumen yang diwajibkan adalah UKL-UPL (Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup). Untuk yang lebih kecil lagi, missal skala home industry, maka dokumennya adalah SPPL (surat pernyataan kesanggupan melakukan pengelolaan lingkungan hidup.
Mengapa saya katakana untuk saat ini?, karena mungkin saja dua atau tiga tahun lagi regulasinya berubah. Atau, bisa saja suatu daerah menetapkan batas besarannya sendiri yang dikukuhkan dengan Peraturan daerah.
Semoga bermanfaat.

Selamat Datang Kereta 10 Gerbong

Banyaknya keluhan tentang padatnya kereta commuter line Jakarta-Bogor, termasuk di Kompasiana ini rupanya mendapat respon positif dari PT. KAI. Beberapa hari lalu terpampang pengumuman bahwa kereta 10 gerbong sudah mulai dilaksanakan. Namun pada tahap ini, di jalur Jakarta-Bogor hanya 5 trip bolak-balik saja.
Saya sendiri belum pernah naik karena mungkin jadwalnya tidak sesuai dengan jadwal saya menggunakan moda transportasi missal tersebut. Tetapi syukurlah karena pastinya suasana dalam kereta menjadi lebih manusiawi.   Selain butuh kesabaran yang tinggi, juga harus ekstra hati-hati karena kini copetpun sudah masuk ke dalam kereta AC yang pintunya selalu tertutup tersebut.
Memang sejak pembenahan hampir setahun lalu yang dimulai dengan pembersihan stasiun dari pedagang-pedagang, semua peron diperpanjang. Diperkirakan cukup untuk 3 set kereta atau sebanyak 12 gerbong per kereta.
Dengan tambahan 2 dari 8 gerbong yang biasanya, maka kapasitas penumpang menjadi lebih besar 25%. Artinya jika jumlah penumpang tetap, ruang gerak ketika kereta penuh akan menjadi lebih besar. Yang tadinya bawa laptop saja susahnya setengah hidup  atau setengah mati karena harus menjaga jangan sampai ketekan, mungkin setelah ditambah menjadi lebih longgar.
Mudah-mudahan saja, kereta tersebut dijalankan pada jam yang tepat, artinya berangkat dari Bogor pagi pada beban puncak antara jam 6 sampai jam 8 pagi dan dari Jakarta antara jam 5 sore sampai jam 7 malam. Karena pada jam sekian, 8 gerbong saja sudah sangat empet-empetan.  
Kalau minggu ini 5 trip, semoga saja minggu depan nambah jadi 10 trip dan selanjutnya. Jika saja kereta sudah nyaman, mungkin saja yang biasa naik sepeda motor  dan bawa mobil berpindah ke kereta. Jika ini terwujud, kemacetan lalu-lintas Jakarta-Bogor mungkin dapat dikurangi, konsumsi BBM yang subsidinya membebani APBN dapat berkurang. Dan yang tidak kalah penting adalah berkurangnya polusi udara karena emisi gas buang kendaraan yang juga berkurang.
Terima kasih PT. KAI.